Rabu, 31 Juli 2013

PKM

Oleh: Angga Fitriana "Psikologi UMM 2011"

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Judul Penelitian
Pengaruh Bentuk Perilaku Berpacaran Terhadap Prestasi Belajar Akademik siswa SMA
B.     Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini pacaran bukanlah menjadi hal yang tabu, dari siswa Sekolah Dasar atau bahkan siswa Taman Kanak-kanak pun sudah pintar dalam memaknai istilah tersebut. Pacaran adalah sebuah bentuk hubungan antara lawan jenis atau laki-laki dengan perempuan yang mempunyai hubungan khusus dan melebihi dari status pertemanan. Pacaran ini merupakan sebuah proses pencarian pasangan dan apabila pasangan yang dirasa memenuhi kriteria yang diinginkan, maka keinginan selanjutnya dari pacaran adalah hidup bersama dengan pasangannya tersebut. Ini adalah tujuan yang dianggap paling mulia dari proses pacaran. Namun, ada juga pacaran yang hanya dijadikan sebagai pemenuhan hasrat nafsu, hal ini sudah marak terjadi dikalangan remaja termasuk siswa SMA.
Dulu istilah pacaran ini sangatlah asing dan tidak dikenal oleh para remaja, seiring berkembangannya zaman kini istilah pacaran sudah menjamur, baik dalam lingkup kota maupun desa pada kalangan remaja di masa ini. Para remaja sekarang seolah membuat suatu tradisi kebudayaan baru dimana pacaran merupakan hal yang wajar untuk dilakukan dalam bergaul, bahkan pacaran dianggap sebagai suatu kewajiban dalam prosesi pergaulan mereka. Padahal dahulu khususnya di negara  Indonesia, pacaran dianggap sebagai suatu hal yang tabu dan bahkan dilarang karena tidak sejalan dengan nilai, norma dan moral bangsa Indoneisa sendiri.
Dalam proses pacaran ini banyak remaja yang terbawa arus dalam melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Munculnya berbagai pola perilaku pacaran yang dilakukan  remaja, seperti: berciuman, berpegangan bahkan melakukan hubungan seksual sekalipun. Hal ini tentu menimbulkan dampak negatif terhadap remaja itu sendiri, apalagi remaja itu masih dalam menempuh tahap pendidikan dimana mereka adalah harapan bagi orang tua mereka. Banyaknya kasus remaja yang hamil di luar nikah adalah salah satu dampak negatif dari perilaku pacaran yang dilakukan oleh remaja. Selain itu, juga berpengaruh terhadap pretasi akademik remaja dalam menempuh pendidikannya. Remaja yang memiliki pacar cenderung akan lebih malas untuk belajar, dan menambah beban pikiran remaja itu sendiri ketika mendapati konflik dengan pasangannya tersebut. Namun, di sisi lain pacaran ini membawa pengaruh yang positif bagi remaja yang bisa membatasi pacarannya. Sebagian remaja yang memandang pacaran dari segi positif dengan menjadikan pacaran sebagai motivasi bagi mereka dalam belajar di sekolah dan meningkatkan prestasi akademik maupun non-akademiknya. Dengan berpacaran mereka bisa saling bertukar pikiran dan saling mendukung untuk memperoleh nilai yang maksimal. Tidak sedikit remaja yang menjadikan pacaran sebagai motivasi untuk meningkatkan potensi diri yang mereka miliki, karena adanya dukungan dari orang yang disayang sangatlah penting dan berarti bagi para remaja untuk dapat mencapai prestasi akademik yang baik. Sedangkan remaja yang menjadikan pacaran sebagi pelampias nafsu, akibatnya akan berujung pada seks. Tentu saja hal ini sangat tidak diinginkan terjadi dikalangan remaja Indonesia.
Banyak beredar di berbagai media masa menyangkut kasus dari perilaku pacaran yang dilakukan remaja  SMA yang berbuah tidak menyenangkan di kalangan masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Novi Mustikasari (2010) perilaku pacaran remaja SMA di Kabupaten Klaten sudah manjurus pada perilaku sesksual diantaranya adalah dengan melakukan kissing, meraba organ seksual sampai berhubungan seksual. Subjek penelitian perempuan berusia 15-16 tahun mempunyai perilaku pacaran yang lebih menjurus ke hubungan seksual. Tujuan dari berpacaran adalah untuk bersenang-senang, serius ke jenjang pernikahan, dan untuk mendapatkan aktifitas seksual. Dari lingkungan sosial sekitar subjek penelitian itu sendiri, cenderung tidak menghambat terjadinya perilaku seksual. Dan berdasarkan data survey dari BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) pada November 2010, sebanyak 51% remaja di kawasan Jakarta telah melakukan seks pranikah. Data tersebut tidak berbeda jauh dengan data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Pada bulan Juni 2010 lalu, Komnas PA pernah merilis data bahwa 62,7 persen remaja di Indonesia sudah tidak perawan.
Berdasarkan pada pemaparan permasalahan yang terjadi dikalangan remaja, maka peneliti menganggap penting untuk mengkaji “Pengaruh Bentuk Perilaku Berpacaran Terhadap Prestasi Akademik Siswa SMA.” Karena seharusnya tugas dari seorang siswa sebagai generasi penerus bangsa adalah belajar dan menciptakan prestasi-prestasi yang membanggakan. Berpacaran seharusnya dapat dijadikan sebagai motivasi dalam meningkatkan prestasi akademik mereka, bukan untuk merusak masa depan dan moral bangsa.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah dalam penelitian ini, maka fokus kajian dalam penelitian ini adalah:
1.    Bagaimanakah pengaruh dari bentuk perilaku berpacaran terhadap prestasi akademik siswa SMA?
2.    Bagaimana cara siswa yang memiliki prestasi untuk mempertahankan prestasinya walaupun mereka berpacaran?
3.    Bagaimana solusi terhadap pengaruh dari bentuk perilaku berpacaran yang dilakukan siswa SMA?
4.    Bagaimana tindakan yang harus dilakukan jika pacaran justru menurunkan motivasi berprestasi siswa SMA?
D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah dalam penelitan ini, maka tujuan penelitian adalah:
1.    Untuk mengidentifikasi dampak positif dan dampak negatif dari perilaku berpacaran terhadap motivasi berprestasi siswa
2.    Untuk meramalkan tindakan yang seharusnya dilakukan siswa yang sudah berprestasi agar tetap mendapatkan prestasi yang maksimal walaupun mereka berpacaran
3.    Untuk mencari solusi terhadap pengaruh dari bentuk perilaku pacaran siswa SMA
4.    Untuk meramalkan tindakan yang harus dilakukan jika pacaran justru menurunkan motivasi berprestasi siswa SMA
E.     Manfaat
Dengan dilakukannya penelitian tentang “Pengaruh Bentuk Perilaku Berpacaran terhadap Prestasi Akademik Siswa SMA” diharapkan akan memberi manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat penelitian yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.    Manfaat Teoritis
Penelitian ini bisa dijadikan untuk menambah pengetahuan dalam perkembangan ilmu psikologi khususnya psikologi remaja dan psikologi perkembangan untuk lebih mengawasi prestasi akademik khususnya pada remaja yang berpacaran untuk lebih memahami dampak maupun pengaruh dari pacaran itu sendiri, selain itu juga untuk lebih memahami bagaimana perkembangan perilaku berpacaran pada remaja saat ini. Sehingga yang diharapkan dari para remaja adalah bisa mencapai prestasi akademik yang maksimal dibidang akademik maupun non-akademik walaupun mereka melakukan perilaku pacaran, tentunya juga dengan pengetahuan tentang batasan mengenai perilaku pacaran itu sendiri.
2.    Manfaat Praktis
a.       Sebagai masukan dan referensi bagi peneliti khususnya dalam menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman untuk memantapkan ketrampilan penulisan karya ilmiah di masa akan datang.
b.      Sebagai bahan masukan bagi pendidik di Sekolah Menegah untuk lebih memperhatikan prestasi akademik dan mengawasi pergaulan dalam berpacaran dari anak didiknya.
c.       Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah untuk lebih memperhatikan setiap perkembangan anak didiknya.
d.      Sebagai bahan masukan bagi setiap orang tua agar lebih memperhatikan dan juga mengawasi pergaulan anaknya dalam berpacaran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
F.     Hipotesis
H0            : Adanya pengaruh dari bentuk perilaku berpacaran terhadap prestasi belajar akademik siswa SMA
H1                : Tidak ada pengaruh dari bentuk perilaku berpacaran terhadap prestasi belajar akademik siswa SMA
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Definisi Pacaran
Pacar adalah kekasih atau orang yang dicintai atau orang yang dikasihi (Kamisa, 1997). Pacaran adalah hubungan pertemanan antar lawan jenis yang diwarnai keintiman. Keduanya terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar (Mulamawitri, 2003). Menurut DeGenova & Rice (2005) pengertian pacaran adalah menjalankan suatu hubungan dimana dua orang bertemu dan melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat saling mengenal satu sama lain. Menurut Bowman (1978) pacaran adalah kegiatan bersenang-senang antara pria dan wanita yang belum menikah, dimana hal ini akan menjadi dasar utama yang dapat memberikan pengaruh timbal balik untuk hubungan selanjutnya sebelum pernikahan di Amerika. 
Menurut Saxton (dalam Bowman, 1978), pacaran adalah suatu peristiwa yang telah direncanakan dan meliputi berbagai aktivitas bersama antara dua orang (biasanya dilakukan oleh kaum muda yang belum menikah dan berlainan jenis). Kyns (1989) menambahkan bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang yang berlawanan jenis dan mereka memiliki keterikatan emosi, dimana hubungan ini didasarkan karena adanya perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masing. Menurut Reiss (dalam Duvall & Miller, 1985) pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita yang diwarnai keintiman. Menurut Papalia, Olds & Feldman (2004), keintiman meliputi adanya rasa kepemilikan. Adanya keterbukaan untuk mengungkapkan informasi penting mengenai diri pribadi kepada orang lain (self disclosure) menjadi elemen utama dari keintiman.
B.     Karakteristik Pacaran
Pacaran merupakan fenomena yang relatif baru, sistem ini baru muncul setelah perang dunia pertama terjadi. Hubungan pria dan wanita sebelum munculnya pacaran dilakukan secara formal, dimana pria datang mengunjungi pihak wanita dan keluarganya (dalam DeGenova & Rice, 2005).
Menurut DeGenova & Rice (2005), proses pacaran mulai muncul sejak pernikahan mulai menjadi keputusan secara individual dibandingkan keluarga dan sejak adanya rasa cinta dan saling ketertarikan satu sama lain antara pria dan wanita mulai menjadi dasar utama seseorang untuk menikah. Pacaran saat ini telah banyak berubah dibandingkan dengan pacaran pada masa lalu. Hal ini disebabkan telah berkurangnya tekanan dan orientasi untuk menikah pada pasangan yang berpacaran saat ini dibandingkan sebagaimana budaya pacaran pada masa lalu (dalam DeGenova & Rice, 2005). Tahun 1700 dan 1800, pertemuan pria dan wanita yang dilakukan secara kebetulan tanpa mendapat pengawasan akan mendapat hukuman. Wanita tidak akan pergi sendiri untuk menjumpai pria begitu saja dan tanpa memilih-milih. Pria yang memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita maka ia harus menjumpai keluarga wanita tersebut, secara formal memperkenalkan diri dan meminta izin untuk berhubungan dengan wanita tersebut sebelum mereka dapat melangkah ke hubungan yang lebih jauh lagi. Orangtua memiliki pengaruh yang sangat kuat, lebih dari yang dapat dilihat oleh seorang anak dalam mempertimbangkan keputusan untuk sebuah pernikahan. Tidak ada jaminan apakan hubungan pacaran yang dibina akan berakhir dalam pernikahan, karena dalam berpacaran tidak ada komitmen untuk melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut Newman & Newman (2006), faktor utama yang menentukan apakah suatu hubungan pacaran dapat berakhir dalam ikatan pernikahan ialah tergantung pada ada atau tidaknya keinginan yang mendasar dari diri individu tersebut untuk menikah.
Murstein (dalam Watson, 2004) mengatakan bahwa pada saat seorang individu menjalin hubungan pacaran, mereka akan menunjukkan beberapa tingkah laku seperti memikirkan sang kekasih, menginginkan untuk sebanyak mungkin menghabiskan waktu dengan kekasih dan sering menjadi tidak realistis terhadap penilaian mengenai kekasih kita. Menurut Bowman & Spanier (1978), pacaran terkadang memunculkan banyak harapan dan pikiran-pikiran ideal tentang diri pasangannya di dalam pernikahan. Hal ini disebabkan karena dalam pacaran baik pria maupun wanita berusaha untuk selalu menampilkan perilaku yang terbaik di hadapan pasangannya. Inilah kelak yang akan mempengaruhi standar penilaian seseorang terhadap pasangannya setelah menikah.
C.    Bentuk Perilaku Pacaran Remaja SMA
Ada beberapa pola atau bentuk perilaku  pacaran yang dilakukan remaja SMA antara lain berciuman bibir, meraba-raba dada, menggesekkan alat kelamin  (petting). Ada beberapa pola pacaran dengan mulai dari urutan persentase tertinggi yaitu ngobrol, curhat, pegangan tangan,  berangkulan, berpelukan, berciuman pipi, berciuman bibir, meraba-raba dada, meraba alat kelamin, menggesek kelamin,  melakukan seks oral dan hubungan seks.
Bentuk perilaku pacaran menurut Santrock (2003), biasanya di­awali dengan necking (berciuman sampai kedaerah dada), petting (saling menem­pelkan alat kelamin), hingga melakukan hubungan intim. Reiss (Duvall dan Miller dalam Rezha, 2005) juga menyatkan be­berapa bentuk perilaku seksual pranikah, yaitu:
·      Bersentuhan (touching), pegangan tangan, berpelukan, berangkulan.
·      Berciuman (kissing), batasan per­ilaku ini mulai dari hanya sekedar kecu­pan (light kissing) sampai pada french kiss (deep kissing).
·      Bercumbu (petting), segala aktifi­tas dengan tujuan untuk membangkitkan gairah seksual, biasanya berupa aktivi­tas sentuhan, rabaan pada daerah erogen atau erotis tapi belum sampai melakukan hubungan kelamin atau koitus.
·      Berhubungan badan (coitus), yaitu adanya kontak antara penis dengan va­gina dan terjadi penetrasi penis kedalam vagina.
D.    Prestasi Akademik
Djamarah (2002) mendefinisikan prestasi akademik rendah adalah sebagai hasil yang diperoleh individu berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil akhir dari aktivitas belajarnya. Azwar (2001) adalah bukti peningkatan atau pencapaian yang diperoleh seorang siswa sebagai pernyataan ada tidaknya kemajuan atau keberhasilan dalam program studinya. Suryabrata (2006) prestasi akademik adalah hasil belajar terakhir yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu, yang mana disekolah prestasi akademik siswa biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu. Kemudian dengan adanya angka atau simbol tersebut, orang lain atau siswa itu sendiri akan dapat mengetahui sejauh mana prestasi akademik yang telah ia capai. Dengan demikian, prestasi akademik disekolah adalah bentuk lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai siswa, dan rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut.
Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik antara lain:
a.    Faktor Internal
1.    Faktor Jasmaniah (Fisiologi), yang termasuk faktor ini misalnya: pengelihatan, pendengaran dan struktur tubuh.
2.    Faktor Psikologis, terdiri atas:
a)    Faktor intelektif yang meliputi:
§  Faktor potensial, yaitu: kecerdasan dan bakat.
§  Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.
b)   Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri.
3.    Faktor kematangan fisik maupun psikis.
4.    Faktor lingkunga spiritual atau keamanan
b.    Faktor Eksternal
1.    Faktor sosial yang terdir atas:
a)    Lingkungan keluarga
b)   Lingkungan sekolah
c)    Lingkungan masyarakat
d)   Lingkungan kelompok
2.    Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
3.    Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, dan iklim.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
a.       Berdasarkan Jenis Data
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain yang spesifik, sistematis, jelas dan terperinci. Selain itu dalam pengumpulan datanya penelitian ini menggunakan angka atau pernyataan-pernyataan yang diangkakan, sehingga gejala-gejala yang terjadi dilapangan bisa diteliti atau diukur dengan menggunakan skala dan dianalisis dengan analisis statistik. Adapun alasan lain peneliti menggunakan penelitian kuantitatif karena penelitian ini untuk membuktikan teori yang telah ada sebelumnya ataupun untuk membuktikan hipotesis yang berkaitan dengan fenomena yang ada.
b.      Berdasarkan Fungsi
Pada penelitian ini, peneliti memilih menggunakan penelitian prediktif yang ditujukan untuk memprediksikan, meramalkan atau memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang berdasarkan hasil analisis bukti dan sebab yang tersedia. Dapat dilakukan melalui studi kecenderungan yaitu dengan melihat perkembangan pada saat ini dengan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu penelitian ini dengan judul “Pengaruh Bentuk Perilaku Berpacaran terhadap Prestasi Akademik Siswa SMA” adalah untuk melihat perbadingan dari dampak positif maupun dampak negatif terhadap prestasi akademik siswa dari bentuk perilaku berpacaran yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Tidak hanya itu, tetapi juga untuk memprediksikan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya dampak negatif yang lebih besar dari masa sekarang.
B.     Variabel
Variabel yang akan diukur adalah sebagai berikut:
a.       Variabel independen (X)
Variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (terikat). Sehingga variabel independent dapat dikatakan sebagai variabel yang mempengaruhi variabel dependen. Variabel independen diberi lambang (X). Pada penelitian kali ini, variabel (X) adalah bentuk perilaku berpacaran yang dilakukan oleh subjek penelitian.
b.      Variabel Dependen (Y)
Variabel dependen biasanya disebut variabel terikat atau variabel tergantung karena keberadaannya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhinya. Variabel dependen diberi lambang (Y). Pada penelitian kali ini, variabel (Y) adalah Prestasi Akademik sebagai akibat dari subjek penelitian yang melakukan perilaku berpacaran.
C.    Sampel
Sampel adalah bagian dari penelitian dengan menentukan jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi untuk dijadikan subjek penelitian. Adapun sample yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Pelajar SMA berjenis kelamin laki-laki dan perempuan
b.      Pelajar SMA yang berstatus mempunyai pacar
c.       Jumlah subjek sebanyak 100 orang
D.    Teknik Sampling
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengambilan sample yaitu snow-ball sampling. Snow-ball sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan sistem jaringan responden. Mulai dari mewawancarai satu responden. Kemudian, responden tersebut akan menunjukkan responden lain dan responden lain tersebut akan menunjukkan responden berikutnya. Hal ini dilakukan secara terus-menerus sampai dengan terpenuhinya jumlah anggota sampel yang diingini oleh peneliti.
E.     Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket atau questionaire, yaitu berupa daftar pernyataan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden dengan item favorable berdasarkan skala Likert. Adapun tujuan peneliti menggunakan skala Likert yaitu responden mampu menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia, yaitu:
1 = Sangat Tidak Setuju
2 = Tidak Setuju
3 = Netral
4 = Setuju
5 = Sangat Setuju
F.     Analisa Data
Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan dalam analisa data adalah dengan menggunakan analisis SPSS regresi linier. Peneliti menggunakan teknik analisis regresi untuk mengetahui variabel (X) yaitu bentuk perilaku berpacaran yang dilakukan siswa SMA berpengaruh terhadap variabel (Y) yaitu prestasi akademik yang diperoleh oleh siswa SMA yang mempunyai pacar.

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock, (2003). Psikologi Remaja. Jakarta : Penerbit Grafindo Jakarta.
Willis,Sofyan.2008. Remaja dan Masalahnya. Bandung : Alfabeta.
Myron, A. G & Myron, C. D. (2006). Bi­cara Soal Cinta, Pacaran, dan Seks. Jakarta : Erlangga.
Sahputra, Naam. (2009). Hubungan Konsep Diri dengan Prestasi Akademik Mahasiswa. Jurnal 4 : 16 – 19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar