BAB
I
PENDAHULUAN
A. Judul Penelitian
Pengaruh
Bentuk Perilaku Berpacaran Terhadap Prestasi Belajar Akademik siswa SMA
B. Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini
pacaran bukanlah menjadi hal yang tabu, dari siswa Sekolah Dasar atau bahkan siswa
Taman Kanak-kanak pun sudah pintar dalam memaknai istilah tersebut. Pacaran
adalah sebuah bentuk hubungan antara lawan jenis atau laki-laki dengan
perempuan yang mempunyai hubungan khusus dan melebihi dari status pertemanan. Pacaran
ini merupakan sebuah proses pencarian pasangan dan apabila pasangan yang dirasa
memenuhi kriteria yang diinginkan, maka keinginan selanjutnya dari pacaran
adalah hidup bersama dengan pasangannya tersebut. Ini adalah tujuan yang
dianggap paling mulia dari proses pacaran. Namun, ada juga pacaran yang hanya
dijadikan sebagai pemenuhan hasrat nafsu, hal ini sudah marak terjadi dikalangan
remaja termasuk siswa SMA.
Dulu istilah pacaran
ini sangatlah asing dan tidak dikenal oleh para remaja, seiring berkembangannya
zaman kini istilah pacaran sudah menjamur, baik dalam lingkup kota maupun desa
pada kalangan remaja di masa ini. Para remaja sekarang seolah membuat suatu
tradisi kebudayaan baru dimana pacaran merupakan hal yang wajar untuk dilakukan
dalam bergaul, bahkan pacaran dianggap sebagai suatu kewajiban dalam prosesi
pergaulan mereka. Padahal dahulu khususnya di negara Indonesia, pacaran dianggap sebagai suatu hal
yang tabu dan bahkan dilarang karena tidak sejalan dengan nilai, norma dan moral
bangsa Indoneisa sendiri.
Dalam proses pacaran ini banyak
remaja yang terbawa arus dalam melakukan hubungan seks dengan pasangannya.
Munculnya berbagai pola perilaku pacaran yang dilakukan remaja, seperti:
berciuman, berpegangan bahkan melakukan hubungan seksual sekalipun. Hal ini
tentu menimbulkan dampak negatif terhadap remaja itu sendiri, apalagi remaja
itu masih dalam menempuh tahap pendidikan dimana mereka adalah harapan bagi
orang tua mereka. Banyaknya kasus remaja yang hamil di luar nikah adalah salah
satu dampak negatif dari perilaku pacaran yang dilakukan oleh remaja. Selain
itu, juga berpengaruh terhadap pretasi akademik remaja dalam menempuh
pendidikannya. Remaja yang memiliki pacar cenderung akan lebih malas untuk
belajar, dan menambah beban pikiran remaja itu sendiri ketika mendapati konflik
dengan pasangannya tersebut. Namun, di sisi lain pacaran ini membawa pengaruh
yang positif bagi remaja yang bisa membatasi pacarannya. Sebagian remaja yang memandang
pacaran dari segi positif dengan menjadikan pacaran sebagai motivasi bagi
mereka dalam belajar di sekolah dan meningkatkan prestasi akademik maupun
non-akademiknya. Dengan berpacaran mereka bisa saling bertukar pikiran dan
saling mendukung untuk memperoleh nilai yang maksimal. Tidak sedikit remaja
yang menjadikan pacaran sebagai motivasi untuk meningkatkan potensi diri yang
mereka miliki, karena adanya dukungan dari orang yang disayang sangatlah
penting dan berarti bagi para remaja untuk dapat mencapai prestasi akademik
yang baik. Sedangkan remaja yang menjadikan pacaran sebagi pelampias nafsu, akibatnya
akan berujung pada seks. Tentu saja hal ini sangat tidak diinginkan terjadi
dikalangan remaja Indonesia.
Banyak beredar di
berbagai media masa menyangkut kasus dari perilaku pacaran yang dilakukan
remaja SMA yang berbuah tidak menyenangkan di kalangan masyarakat. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Novi Mustikasari (2010) perilaku
pacaran remaja SMA di Kabupaten Klaten sudah manjurus pada perilaku sesksual
diantaranya adalah dengan melakukan kissing,
meraba organ seksual sampai berhubungan seksual. Subjek penelitian perempuan berusia
15-16 tahun mempunyai perilaku pacaran yang lebih menjurus ke hubungan seksual.
Tujuan dari berpacaran adalah untuk bersenang-senang, serius ke jenjang
pernikahan, dan untuk mendapatkan aktifitas seksual. Dari lingkungan sosial
sekitar subjek penelitian itu sendiri, cenderung tidak menghambat terjadinya
perilaku seksual. Dan berdasarkan data survey dari BKKBN (Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional) pada November 2010, sebanyak 51% remaja di kawasan
Jakarta telah melakukan seks pranikah. Data tersebut tidak berbeda jauh dengan
data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Pada bulan Juni 2010 lalu,
Komnas PA pernah merilis data bahwa 62,7 persen remaja di Indonesia sudah tidak
perawan.
Berdasarkan pada
pemaparan permasalahan yang terjadi dikalangan remaja, maka peneliti menganggap
penting untuk mengkaji “Pengaruh Bentuk Perilaku Berpacaran Terhadap Prestasi
Akademik Siswa SMA.” Karena seharusnya tugas dari seorang siswa sebagai
generasi penerus bangsa adalah belajar dan menciptakan prestasi-prestasi yang
membanggakan. Berpacaran seharusnya dapat dijadikan sebagai motivasi dalam meningkatkan
prestasi akademik mereka, bukan untuk merusak masa depan dan moral bangsa.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan
dari latar belakang masalah dalam penelitian ini, maka fokus kajian dalam
penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah pengaruh dari bentuk perilaku berpacaran
terhadap prestasi akademik siswa SMA?
2. Bagaimana
cara siswa yang memiliki
prestasi
untuk mempertahankan prestasinya walaupun mereka berpacaran?
3. Bagaimana solusi terhadap pengaruh dari bentuk
perilaku berpacaran yang dilakukan siswa SMA?
4. Bagaimana tindakan yang
harus dilakukan jika pacaran justru menurunkan motivasi berprestasi siswa SMA?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari
rumusan masalah dalam penelitan ini, maka tujuan penelitian adalah:
1. Untuk
mengidentifikasi dampak positif dan dampak negatif dari perilaku berpacaran
terhadap motivasi berprestasi siswa
2. Untuk
meramalkan tindakan yang seharusnya dilakukan siswa yang sudah berprestasi agar
tetap mendapatkan prestasi yang maksimal walaupun mereka berpacaran
3. Untuk
mencari solusi terhadap pengaruh dari
bentuk perilaku pacaran siswa SMA
4. Untuk meramalkan tindakan
yang harus dilakukan jika pacaran justru menurunkan motivasi berprestasi siswa
SMA
E. Manfaat
Dengan
dilakukannya penelitian tentang “Pengaruh
Bentuk Perilaku Berpacaran terhadap Prestasi Akademik Siswa SMA” diharapkan
akan memberi manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat penelitian
yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Manfaat
Teoritis
Penelitian ini bisa
dijadikan untuk menambah pengetahuan dalam perkembangan ilmu psikologi
khususnya psikologi remaja dan psikologi perkembangan untuk lebih mengawasi
prestasi akademik khususnya pada remaja yang berpacaran untuk lebih memahami
dampak maupun pengaruh dari pacaran itu sendiri, selain itu juga untuk lebih
memahami bagaimana perkembangan perilaku berpacaran pada remaja saat ini.
Sehingga yang diharapkan dari para remaja adalah bisa mencapai prestasi
akademik yang maksimal dibidang akademik maupun non-akademik walaupun mereka
melakukan perilaku pacaran, tentunya juga dengan pengetahuan tentang batasan
mengenai perilaku pacaran itu sendiri.
2. Manfaat
Praktis
a. Sebagai
masukan dan referensi bagi peneliti khususnya dalam menambah wawasan,
pengetahuan dan pengalaman untuk memantapkan ketrampilan penulisan karya ilmiah
di masa akan datang.
b. Sebagai
bahan masukan bagi pendidik di Sekolah Menegah untuk lebih memperhatikan
prestasi akademik dan mengawasi pergaulan dalam berpacaran dari anak didiknya.
c. Sebagai
bahan masukan bagi pihak sekolah untuk lebih memperhatikan setiap perkembangan
anak didiknya.
d. Sebagai
bahan masukan bagi setiap orang tua agar lebih memperhatikan dan juga mengawasi
pergaulan anaknya dalam berpacaran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di
inginkan.
F.
Hipotesis
H0 : Adanya pengaruh dari bentuk
perilaku berpacaran terhadap prestasi belajar akademik siswa SMA
H1 : Tidak ada pengaruh dari
bentuk perilaku berpacaran terhadap prestasi belajar akademik siswa SMA
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Definisi Pacaran
Pacar adalah kekasih
atau orang yang dicintai atau orang yang dikasihi (Kamisa, 1997). Pacaran
adalah hubungan pertemanan antar lawan jenis yang diwarnai keintiman. Keduanya
terlibat dalam perasaan cinta dan saling mengakui pasangan sebagai pacar
(Mulamawitri, 2003). Menurut DeGenova
& Rice (2005) pengertian pacaran adalah menjalankan suatu hubungan
dimana dua orang bertemu dan melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat
saling mengenal satu sama lain. Menurut Bowman
(1978) pacaran adalah kegiatan bersenang-senang antara pria dan wanita yang
belum menikah, dimana hal ini akan menjadi dasar utama yang dapat memberikan
pengaruh timbal balik untuk hubungan selanjutnya sebelum pernikahan di
Amerika.
Menurut Saxton (dalam Bowman, 1978), pacaran adalah suatu peristiwa yang
telah direncanakan dan meliputi berbagai aktivitas bersama antara dua orang
(biasanya dilakukan oleh kaum muda yang belum menikah dan berlainan
jenis). Kyns (1989) menambahkan bahwa pacaran
adalah hubungan antara dua orang yang berlawanan jenis dan mereka memiliki
keterikatan emosi, dimana hubungan ini didasarkan karena adanya
perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masing. Menurut Reiss (dalam
Duvall & Miller, 1985) pacaran adalah hubungan antara pria dan wanita yang
diwarnai keintiman. Menurut Papalia, Olds & Feldman (2004), keintiman
meliputi adanya rasa kepemilikan. Adanya keterbukaan untuk mengungkapkan
informasi penting mengenai diri pribadi kepada orang lain (self disclosure)
menjadi elemen utama dari keintiman.
B.
Karakteristik Pacaran
Pacaran merupakan fenomena yang relatif baru, sistem ini baru
muncul setelah perang dunia pertama terjadi. Hubungan pria dan wanita sebelum munculnya
pacaran dilakukan secara formal, dimana pria datang mengunjungi pihak wanita
dan keluarganya (dalam DeGenova & Rice, 2005).
Menurut
DeGenova & Rice (2005), proses pacaran mulai muncul sejak pernikahan mulai
menjadi keputusan secara individual dibandingkan keluarga dan sejak adanya rasa
cinta dan saling ketertarikan satu sama lain antara pria dan wanita mulai
menjadi dasar utama seseorang untuk menikah. Pacaran saat ini telah banyak
berubah dibandingkan dengan pacaran pada masa lalu. Hal ini disebabkan telah
berkurangnya tekanan dan orientasi untuk menikah pada pasangan yang berpacaran
saat ini dibandingkan sebagaimana budaya pacaran pada masa lalu (dalam DeGenova
& Rice, 2005). Tahun 1700 dan 1800, pertemuan pria dan wanita yang
dilakukan secara kebetulan tanpa mendapat pengawasan akan mendapat hukuman.
Wanita tidak akan pergi sendiri untuk menjumpai pria begitu saja dan tanpa
memilih-milih. Pria yang memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan
seorang wanita maka ia harus menjumpai keluarga wanita tersebut, secara formal
memperkenalkan diri dan meminta izin untuk berhubungan dengan wanita tersebut
sebelum mereka dapat melangkah ke hubungan yang lebih jauh lagi. Orangtua
memiliki pengaruh yang sangat kuat, lebih dari yang dapat dilihat oleh seorang
anak dalam mempertimbangkan keputusan untuk sebuah pernikahan. Tidak ada
jaminan apakan hubungan pacaran yang dibina akan berakhir dalam pernikahan,
karena dalam berpacaran tidak ada komitmen untuk melanjutkan hubungan tersebut
ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut Newman & Newman (2006), faktor utama
yang menentukan apakah suatu hubungan pacaran dapat berakhir dalam ikatan
pernikahan ialah tergantung pada ada atau tidaknya keinginan yang mendasar dari
diri individu tersebut untuk menikah.
Murstein
(dalam Watson, 2004) mengatakan bahwa pada saat seorang individu menjalin
hubungan pacaran, mereka akan menunjukkan beberapa tingkah laku seperti
memikirkan sang kekasih, menginginkan untuk sebanyak mungkin menghabiskan waktu
dengan kekasih dan sering menjadi tidak realistis terhadap penilaian mengenai
kekasih kita. Menurut Bowman & Spanier (1978), pacaran terkadang
memunculkan banyak harapan dan pikiran-pikiran ideal tentang diri pasangannya
di dalam pernikahan. Hal ini disebabkan karena dalam pacaran baik pria maupun
wanita berusaha untuk selalu menampilkan perilaku yang terbaik di hadapan
pasangannya. Inilah kelak yang akan mempengaruhi standar penilaian seseorang
terhadap pasangannya setelah menikah.
C.
Bentuk Perilaku Pacaran Remaja SMA
Ada beberapa pola atau bentuk
perilaku pacaran yang dilakukan remaja SMA antara lain berciuman bibir,
meraba-raba dada, menggesekkan alat kelamin (petting). Ada beberapa
pola pacaran dengan mulai dari urutan persentase tertinggi yaitu ngobrol,
curhat, pegangan tangan, berangkulan, berpelukan, berciuman pipi, berciuman
bibir, meraba-raba dada, meraba alat kelamin, menggesek kelamin,
melakukan seks oral dan hubungan seks.
Bentuk perilaku pacaran menurut
Santrock (2003), biasanya diawali dengan necking
(berciuman sampai kedaerah dada), petting
(saling menempelkan alat kelamin), hingga melakukan hubungan intim. Reiss
(Duvall dan Miller dalam Rezha, 2005) juga menyatkan beberapa bentuk perilaku
seksual pranikah, yaitu:
·
Bersentuhan (touching), pegangan tangan, berpelukan,
berangkulan.
·
Berciuman (kissing), batasan perilaku ini mulai
dari hanya sekedar kecupan (light
kissing) sampai pada french kiss
(deep kissing).
·
Bercumbu (petting), segala aktifitas dengan
tujuan untuk membangkitkan gairah seksual, biasanya berupa aktivitas sentuhan,
rabaan pada daerah erogen atau erotis tapi belum sampai melakukan hubungan
kelamin atau koitus.
·
Berhubungan badan (coitus), yaitu adanya kontak antara
penis dengan vagina dan terjadi penetrasi penis kedalam vagina.
D.
Prestasi Akademik
Djamarah (2002) mendefinisikan prestasi akademik
rendah adalah sebagai hasil yang diperoleh individu berupa kesan-kesan yang
mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil akhir dari aktivitas
belajarnya. Azwar (2001) adalah bukti peningkatan atau pencapaian yang
diperoleh seorang siswa sebagai pernyataan ada tidaknya kemajuan atau
keberhasilan dalam program studinya. Suryabrata (2006) prestasi akademik adalah
hasil belajar terakhir yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu, yang
mana disekolah prestasi akademik siswa biasanya dinyatakan dalam bentuk angka
atau simbol tertentu. Kemudian dengan adanya angka atau simbol tersebut, orang
lain atau siswa itu sendiri akan dapat mengetahui sejauh mana prestasi akademik
yang telah ia capai. Dengan demikian, prestasi akademik disekolah adalah bentuk
lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai siswa, dan
rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut.
Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004), faktor-faktor
yang mempengaruhi prestasi akademik antara lain:
a. Faktor Internal
1. Faktor Jasmaniah (Fisiologi), yang termasuk faktor
ini misalnya: pengelihatan, pendengaran dan struktur tubuh.
2. Faktor Psikologis, terdiri atas:
a) Faktor intelektif yang meliputi:
§ Faktor potensial, yaitu: kecerdasan dan bakat.
§ Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah
dimiliki.
b) Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian
tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan
penyesuaian diri.
3. Faktor kematangan fisik maupun psikis.
4. Faktor lingkunga spiritual atau keamanan
b. Faktor Eksternal
1. Faktor sosial yang terdir atas:
a) Lingkungan keluarga
b) Lingkungan sekolah
c) Lingkungan masyarakat
d) Lingkungan kelompok
2. Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan,
teknologi dan kesenian.
3. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah,
fasilitas belajar, dan iklim.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
a. Berdasarkan Jenis Data
Pada penelitian ini,
peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain yang spesifik,
sistematis, jelas dan terperinci. Selain itu dalam pengumpulan datanya
penelitian ini menggunakan angka atau pernyataan-pernyataan yang diangkakan, sehingga
gejala-gejala yang terjadi dilapangan bisa diteliti atau diukur dengan
menggunakan skala dan dianalisis dengan analisis statistik. Adapun alasan lain peneliti menggunakan penelitian
kuantitatif karena penelitian ini untuk membuktikan teori yang telah ada
sebelumnya ataupun untuk membuktikan hipotesis yang berkaitan dengan fenomena
yang ada.
b.
Berdasarkan
Fungsi
Pada penelitian ini,
peneliti memilih menggunakan penelitian prediktif yang ditujukan untuk memprediksikan,
meramalkan atau memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang berdasarkan
hasil analisis bukti dan sebab yang tersedia. Dapat dilakukan melalui studi
kecenderungan yaitu dengan melihat perkembangan pada saat ini dengan pada masa
yang akan datang. Oleh karena itu penelitian ini dengan judul “Pengaruh Bentuk
Perilaku Berpacaran terhadap Prestasi Akademik Siswa SMA” adalah untuk melihat
perbadingan dari dampak positif maupun dampak negatif terhadap prestasi
akademik siswa dari bentuk perilaku berpacaran yang akan terjadi dimasa yang
akan datang. Tidak hanya itu, tetapi juga untuk memprediksikan tindakan yang
seharusnya dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya
dampak negatif yang lebih besar dari masa sekarang.
B.
Variabel
Variabel yang akan diukur adalah sebagai berikut:
a.
Variabel independen (X)
Variabel independen atau variabel bebas merupakan
variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen
(terikat). Sehingga variabel independent dapat dikatakan sebagai variabel yang
mempengaruhi variabel dependen. Variabel independen diberi lambang (X). Pada
penelitian kali ini, variabel (X) adalah bentuk perilaku berpacaran yang
dilakukan oleh subjek penelitian.
b. Variabel
Dependen (Y)
Variabel dependen biasanya disebut variabel terikat
atau variabel tergantung karena keberadaannya dipengaruhi
oleh keadaan-keadaan yang mempengaruhinya. Variabel dependen diberi lambang
(Y). Pada penelitian kali ini, variabel (Y) adalah Prestasi Akademik sebagai
akibat dari subjek penelitian yang melakukan perilaku berpacaran.
C.
Sampel
Sampel adalah bagian dari penelitian
dengan menentukan jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi untuk dijadikan subjek penelitian. Adapun sample yang digunakan pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.
Pelajar
SMA berjenis kelamin laki-laki dan perempuan
b.
Pelajar
SMA yang berstatus mempunyai pacar
c.
Jumlah
subjek sebanyak 100 orang
D.
Teknik Sampling
Pada penelitian ini, peneliti
menggunakan teknik pengambilan sample yaitu snow-ball
sampling. Snow-ball sampling adalah teknik pengambilan sampel yang
dilakukan dengan sistem jaringan
responden.
Mulai dari mewawancarai satu responden. Kemudian, responden tersebut akan
menunjukkan responden lain dan responden lain tersebut akan menunjukkan
responden berikutnya. Hal ini dilakukan secara terus-menerus sampai
dengan terpenuhinya jumlah anggota sampel yang diingini oleh peneliti.
E.
Metode Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket atau
questionaire, yaitu berupa daftar pernyataan
untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden dengan item favorable
berdasarkan skala Likert. Adapun tujuan peneliti menggunakan skala Likert yaitu
responden mampu menentukan tingkat persetujuan mereka
terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia,
yaitu:
1
= Sangat Tidak Setuju
2
= Tidak Setuju
3
= Netral
4
= Setuju
5
= Sangat Setuju
F.
Analisa Data
Dalam
penelitian ini, teknik yang digunakan dalam analisa data adalah dengan
menggunakan analisis SPSS regresi linier. Peneliti menggunakan teknik analisis
regresi untuk mengetahui variabel (X) yaitu bentuk perilaku berpacaran yang
dilakukan siswa SMA berpengaruh terhadap variabel (Y) yaitu prestasi akademik
yang diperoleh oleh siswa SMA yang mempunyai pacar.
DAFTAR
PUSTAKA
Hurlock, (2003).
Psikologi Remaja. Jakarta : Penerbit Grafindo Jakarta.
Willis,Sofyan.2008. Remaja dan Masalahnya. Bandung : Alfabeta.
Myron, A. G & Myron, C. D. (2006). Bicara Soal Cinta,
Pacaran, dan Seks. Jakarta : Erlangga.
Sahputra, Naam. (2009).
Hubungan Konsep Diri dengan Prestasi Akademik Mahasiswa. Jurnal 4 : 16 – 19