Strategic Family Therapy
Model
Strategic Family Therapy dikembangkan
pada tahun 1950 yang dimana ada dua sumber utama yaitu (1). Gregory Bateson dan
Palo Alto Group. Keduanya mengaplikasikan ilmu cybernetics pada pola-pola komunikasi dalam keluarga. (2). Milton
Erickson yang mengembangkan intervensi revolusi paradoxical yang memanfaatkan
ketidak inginan seseorang untuk berubah untuk membawa perubahan yang cepat pada
simptom kejiwaan.
Palo Alto Group adalah grup yang
terdiri dari Jay Haley dan John Weakland yang pertama kali bergabung setelah itu disusul oleh Gregory Bateson yang bergabung pada tahun
1953 yang kemudian terakhir bergabung pada tahun 1954 adalah William Fry.
Ditahun 1954, Bateson menerima kesempatan dari Macy Foundation yang memiliki
fokus untuk mempelajari skizofrenia bersama Don Jackson. Mereka mempelajari
pola-pola komunikasi dalam keluarga dengan mendiagnosis skizofrenia untuk
menemukan simptom yang original. Hasilnya mereka menemukan konsep cybernetics. Konsep Cybernatics adalah studi yang mempelajari bagaimana sistem
pemrosesan informasi dikarenakannya ada umpan balik (feedback). Mereka berasumsi bahwa jika terjadi perilaku psikotik
pada salah satu anggota keluarga akan masuk akal ketika keluarga memiliki
komunikasi yang patologis pula. Menurut Jay Haley dan Cloe Madanes keluarga
bermasalah akibat dinamika dan struktur keluarga yang disfungsional. Perilaku
yang bermasalah merupakn usaha individu untuk mencapai kekuasaan dan rasa aman.
Strategic Family
Therapy adalah pendekatan konseling yang dimana dilakukan
dengan taktik-taktik atau strategi yang sudah dirancang dan dilaksanakan sesuai
prosedur serta secara hati-hati. Selain itu pendekatan konseling keluarga ini
langsung menangani masalah-masalah yang ada dikeluarga.
Ada
beberapa konsep karakteristik hasil penggabungan konsep dari Alto Palo Group
dan Erickson yaitu sebagai berikut:
1.
Fokus pada pola komunikasi keluarga yang
digunakan saat ini yang berfungsi mempertahankan masalah.
2.
Treatment goals berasal dai masalah atau gejala yang ditampakkan.
3.
Memiliki keyakinan bahwa perubahan bisa
terjadi dengan cepat dan tidak membutuhkan insight pada penyebab terjadinya
masalah tersebut.
4.
Memanfaatkan resistensi untuk mengajak
perubahan dengan menerapkan strategi khusus.
Tujuan Konseling
Untuk
menentukan tujuan yang akan dicapai keluarga ini ada beberapa hal yang harus
diperhatikan yaitu sebagai berikut; tujuan haruslah dibuat bersama-sama oleh
anggota keluarga, akan tetapi terapis tetap sebagai orang yang menentukan
tujuan mana yang akan dipakai/diwujudkan. Tujuan pada strategic family therapy ini haruslah berfokus pada konsep
behavioral, artinya tujuan keluarga tersebut nantinya harus merupakan perilaku
yang nampak atau dapat di observasi.
Selain
itu, Perilaku yang diinginkan juga harus mengikuti konsep behavioral dalam artian perilaku yang diinginkan pada akhir proses
konseling, merupakan perilaku yang dapat berubah dalam konteks yang masuk akal atau
perilaku yang masih dapat diperhitungkan.
Tujuan
yang sudah ditentukan bersama tadi akan menjadi tanggung jawab untuk terapis
menentukan treatmen yang akan diberikan kepada keluarga tersebut dan sudah
dibuat perjanjian atau kesepakatan.
Peran Konselor
Konselor
menanggapi munculnya daya tahan/perlawanan dalam keluarga dan mendesign
rangkaian cerita tentang strategi-strategi untuk memecahkan masalah. Menerima
munculnya perlawanan/daya tahan melalui penerimaan positif terhadap problem-problem yang dibawa keluarga.
Konselor lebih seperti seorang dokter dalam tanggung-jawab terhadap
keberhasilan treatment dan harus merencanakan dan membangun strategi-strategi.
Teknik-Teknik
Pendekatan
Strategis sebagian besar difokuskan pada pemilihan strategi yang disesuaikan
dengan situasi khusus dari permasalahan yang terjadi di keluarga tersebut. Masing-masing
terdiri dari tiga model yang sedikit berbeda pada tekniknya, berikut
penjelasannya:
A. Mental Research Institute (MRI), menggunakan
6 langkah dala proses konselingnya yaitu:
1. Introduction
dan setup dimana sudah diterapkan pemberian motivasi.
2. Menentukan
definisi masalah pada perilaku yang tampak saja.
3. Estimation
Perilaku.
4. Setting goals, pada
tahap ini sudah menentukan perilaku apa yang ingin dicapai selesainya proses
konseling.
5. Selecting Dan
Membuat Intervensi
a. Reframing
- menyediakan keluarga pengobatan yang rasional. MRI terapis mungkin tidak
percaya apa yang dikatakan keluarga, tapi itu tidak penting asalkan penjelasan
rasional. Point penting pada sesi bukan untuk membuat anggota Insight, tapi untuk mendorong kepatuhan.
b. Outpositioning
- Meminta seseorang mengambil peran anggota lain.
c. Paradoxical -
kepatuhan dengan dasar hanya menginginkan anggota keluarga dapat merubah
perilakunya.
d. Symptom
atau Paparan dengan pradoks yang mengungkapkan hubungan-hubungan keluarga yang tidak
tampak.
e. Restraining
- mengatakan keluarga mereka tidak bisa bergerak sangat cepat jika mereka tidak
siap.
6. Termination (pengakhiran)
B.
Haley dan Madanes, menggunakan strategic therapy untuk mengubah interaksi yang ada, tetapi ada
perbedaan dari konsep murni dari Strategic
FamilyTheraphy bahwa menurut mereka tujuan terapi tidak hanya untuk
mengubah urutuan interaksi yang terjadi tapi juga mengubah struktur keluarga.
(Piercy, 1996 dalamWinek, 2012).
Konsep terapi yang disampaikan Haley
(1976) adalah terapi harus dilakukan dengan rancangan yang sudah dibuat sejak
awal. Sesi pertama meruoaj sesi yang sangat penting, “Jika ingin terapi
berjalan dengan baik, maka seharusnya dimulai dengan benar”. Terapis dan
keluarga harus mendefinisi masalah yang akan dipecahkan, kemudian terapislah
yang menemukan situasi seperti apa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah.
Oleh karena itu Haley sangat menyarankan bahwa terapis yang akan melakukan
penanganan mewajibkan semua anggota keluarga yang terlibat harus hadir pada
sesi pertama. Haley juga mengembangkan empat tahap yang rinci serta tujuan yang
akan dicapai pada setiap tahapannya, yaitu sebagai berikut:
1.
Tahap
Sosial
Pada tahap ini terapis
menyambut anggota keluarga karena bisa saja terjadi defense, gugup atau belum
merasa nyaman ketika berada ditempat terapi. Pada tahap ini terapis juga
memperhatikan norma-norma budaya yang sesuai.
Goal
: Membantu
setiap anggota keluarga agar merasa nyaman dan santai. Terapis sudah mulai
melakukan pengamatan pola interaksi yang terjadi, kemudian membuat hipotesis
tentang struktur yang ada dalam keluarga tersebut.
2.
Tahap
Masalah
Pada tahap ini terapis
bergeser ke situasi terapi dengan memperkenalkan dirinya sendiri, menguraikan
apa yang sudah terpis ketahui mengenai
keluarga tersebut, dan sudah mulai bertanya tentang masalah yang terjadi.
Terapis harus menjelaskan bahwa mereka semua hadir disini karena diminta untuk
dapat berkontribusi untuk menyerukan pendapat dalam perspektif masing-masing
anggota keluarga. Terapis sudah memutuskan siapa yang akan ia tanyai pertama
(hasil dari pengamatan sebelumnya). Pada tahap ini biasanya terapis menghindari
mulai bertanya pada anggota keluarga yang diidentifikasi sebagai sumber
masalah.
Goal
: Terapis
terus mengamati sehingga dapat membuat hipotesis mengenai struktur hirarki yang
seperti apa, tetapi tidak menginterpretasikan interaksi yang ada pada keluarga
tersebut. Terapis mampu melihat perbedaan pendapat atau pandangan dalam
penjelasan masalah dari masing masing anggota keluarga yang kemudian digunakan
sebagai diskusi interaktif yang harus diikuti anggota keluarga. Terapis mampu
mengambil alih sesi misalnya, mencegah anggota keluarga yang terlalu banyak
bicara atau mendominasi, mendekati anak yang tidak ingin berbicara, dan
interaksi lainnya agar semua anggota keluarga dapat memberikan penjelasan yang
dapat dimengerti. Intervensi ini sangat strategic dimana bisa saja keluarga
tersebut memunculkan atau mengulangi pola interaksi yang berlaku sebelumnya
dikeluarga mereka.
3.
Tahap
Interaksi
Pada tahap ini terapis
meminta para anggota untuk berdiskusi satu sama lain mengenai perpektif ataupun
ketidaksepakatan mengenai masalah yang terjadi. Terapis bisa ikut terlibat
untuk membuat anggota keluarga agar dapat lebih masuk kedalam proses diskusi.
Terapis dapat mengamati masalah interaksi dari anggota keluarga yang tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata.
Goal
: Uji Hipotesis, mengobservasi bagaimana urutan dan struktur pengaturan
perilaku misalnya malfungsi pada hirarki, kualitas dari fungsi orangtua, dll.
4.
Tahap
menentukan Goal Setting
Pada tahap ini terapi
menanyakan setiap anggota perubahan seperti apa yang mereka inginkan setelah
proses terapi ini berakhir. Terapis membantu memperjelas masalah dan kemudian
tujuan seperti apa yang bisa diperhitungkan, diukur, atau bisa jadi mana
perilaku mana yang dapat menyebabkan mempengaruhi dalam masalah ini.
Goal
: Untuk menggambarkan masalah mana yang dapat diatasi selama proses terapi.
Jika dapat diperhitungkan, terapis dan keluarga sudah mengetahui kapan proses
treatment akan selesai.
Haley menyediakan daftar cheklist untuk
mengevaluasi sesi pertama. Tugas yang dirancang oleh Haley adalah directivesm
yang dimana ada tiga tujuan, yaitu:
1. Untuk
membuat anggota keluarga melakukan sesuatu yang berbeda dan merasakan
pengalaman yang berbeda.
2. Untuk
melibatkan terapis dengan proses treatment
“meningkatkan hubungan dengan terapis”.
3. Untuk
mengumpulkan beberapa informasi mengenai bagaimana resopon setiap anggota
keluarga pada tugas yang diberikan. Anggota keluarga dapat diarahkan pada
sesuatu hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
C. Milan
- Ada beberapa model Milan. Model asli adalah sangat strategis. Keluarga akan dirawat
oleh tim cotherapist pria dan wanita, terapi diamati oleh anggota tim lainnya,
keluarga terlihat sekali sebulan hanya 10 sesi . Terapi seharusnya netral dan
jauh. Terdapat 5 sesi, yaitu:
1. Presession
– membuat hipotesis tentatif
2. Session
- hipotesis diuji dan disempurnakan
3. Intersession
- tim akan bertemu dengan terapi sementara keluarga menunggu.
4. Intervention
- terapi akan kembali untuk memberikan intervensi . Ada beberapa intervensi
biasanya digunakan
a.
Positive konotasi, melakukan reframe
pada masalah yang dihadapi tetapi selama proses berlangsung semua anggota
keluarga tidak diperbolehkan menyalahkan satu sama lainnya.
b.
Rituals adalah arahan untuk melibatkan
seluruh keluarga dalam beberapa perilaku yang berlebihan atau aturan dan mitos
yang diterapkan di keluarga. Anggota keluarga mungkin berterima kasih satu sama
lain untuk gejala masing-masing.
5. Post - sesi - tim akan menganalisis
reaksi keluarga dan rencana untuk sesi berikutnya.
Brief Stratefic Family Therapy
(BSFT)
Brief Strategic Family
Theraphy adalah salah satu variasi dari pendekatan strategic yang sering digunakan. Brief Strategic Family Therapy
dikembangkan oleh Research Institute
Brief Therapy Center dan The Milan
Center for Family Studies. Pendekatan ini memiliki pandangan bahwa keluarga
adalah kunci utama dalam perkembangan anak dan remaja. BSFT dirancang untuk
langsung otomatis dapat melihat pola seperti apa yang terjadi dalam keluarga
dan kemudian dijadikan rancangan intervensinya. (Szappocznik, dkk, 2012).
Tujuan
dari BSFT sendiri ada beberapa hal yaitu:
1. Meningkatkan
hubungan keluarga yang dianggap memiliki korelasi langsung pada masalah yang
terjadi di salah satu anggota keluarga tersebut.
2. Meningkatkan
hubungan keluarga dengan beberapa sistem yang beperan penting disekelilinganya
(misalnya sekolah, teman sebaya, dll).
3. Untuk
memahami cara tertentu dimana bsft dapat menghasilkan perubahan dalam hubungan
didalam keluarga dan bagaimana perilaku dalam mengatasi masalah.
BSFT
adalah intervensi manualized (Szapocznik,
dkk, 2003) dengan target yang terstruktur, pola interaksi dilingkungan keluarga
bagi remaja, dan menciptakan perubahan dalam pola-pola yang tidak baik dengan
intervensi strategis untuk merusak atau mengubahnya (pola). Dengan begitu ada
tiga prinsip mengaoa disusunnya Brief
Strategic Family Therapy (BTS) yaitu: (1). BSFT adalah pendekatan family-system. Family-system disini
diartikan bahwa anggota keluarga saling ketergantungan. Pengalaman serta
tingkah laku setiap anggota keluarga mempengaruhi pengalaman dan tingkah laku
anggota keluarga lainnya. (2). Bahwa kebiaasan yang ada keluarga itu atau
pola-pola interaksi yang berulang mempengaruhi tingkah laku setiap anggota
keluarga. Pola interaksi dapat diartikan sebagai perilaku yang berulang-ulang
dianatara anggota keluarga yang kemudian akan menjadi kebiasaan dan terulang
dari waktu ke waktu. Yang dimana tugas konselor dalam BSFT adalah
mengidentifikasi pola interaksi yang maladaptif yang terjadi dikeluarga tersebut.
(3). Untuk merancang/merencanakan intervensi yang berfokus pada masalah dan
target. Target disini dapat diartikan sebagai pola interkasi yang maladaptif
terjadi di keluarga tersebut sekaligus memperkuat pola interkasi adaptifnya.
Teknik-Teknik BSFT
Reframing, digunakan
untuk mengurangi dampak negatif yang memperngaruhi interaksi yang berlangsung
didalam keluarga selagi menumbuhkan motivasi/keinginan untuk berubah sesuai
target. Dengan itu terapis diharapkan dapat menjalin dan menjaga hubungan kerja
yang efektif (joinning) agar terapi
dapat terlibat dengan kegiatan yang dilakukan kelurga tersebut. Selain itu
terapis juga diharapkan menjadi fasilitator untuk interaksi dalam keluarg serta
merubah dampak negatif kedalam interaksi konstruktif yang membentuk keinginan
keluarga tersebut untuk berubah.
Restructuring, setelah
menjalankan reframing yang menjadi
batu loncatan untuk intervensi restrukturalisasi yang mengubah hubungkan
keluarga dari yang bermasalah menjadi mendukung satu sama lainnya. Adapun
beberapa hal yang termasuk proses restrukturalisasi yaitu:
a)
Directed,
redirected, dan
blockingterhadap komunikasi yang mereka lakukan.
b) Merubah
family alliance.
c) Membantu
anggota keluarga mengembangkan kemampuan pemecahan masalah (konflik).
d) Membantu
anggota keluarga untuk mengembangkan managemen tingkah laku yang efektif, dan
kemampuan managemen problem solving.
e) Mendorong
positive parenting, parental leadership
skills.
Pada
teknik ini, setiap sesi tidak pernah lepas dari pemberian tugas, setiap satu
sesi berakhir akan diberikan tugas, sesi berikutnya berlangsung akan diberikan
tugas kembali begitu seterusnya.
Langkah-Langkah BSFT
BSFT
dapat diimplementasikan dalam berbagai pengaturan, termasuk komunitas atau
lembaga pelayanan sosial, klinik kesehatan mental, lembaga kesehatan, maupun
klinik keluarga. BSFT disampaikan dalam 8 sampai 12 minggu, untuk setiap sesi membutuhkan waktu 1,5 jam. Keluarga dan BSFT konselor bertemu
baik di kantor atau rumah, sekolah atau tempat lain sesuai kesepakatan bersama.
Sesi dapat terjadi lebih sering di sekitar krisis karena ini adalah kesempatan
untuk berubah. Adapun langkah-langkah penting yang dilakukan dalam BSFT, yaitu
sebagai berikut:
• Langkah 1:
Mengatur tim kerja konselor keluarga.
Pengembangan aliansi therapeutic dengan masing-masing anggota keluarga dan kehadiran
keluarga secara keseluruhan sangat penting untuk proses BSFT. Oleh karena itu
konselor diminta untuk menerima dan menunjukkan rasa hormat untuk setiap
anggota keluarga individu dan keluarga secara keseluruhan.
• Langkah 2:
Mendiagnosa kekuatan keluarga dan bagaimana
hubungan masalah. Memberikan perhatian penuh pada hubungan keluarga yang saling
mensupport dan korelasi masalah dengan
pengaruhnya pada perilaku anggota keluarga.
• Langkah 3:
Mengembangkan kesempatan menggunakan
strategi untuk kekuatan dan menentukan permasalahan sebenarnya yang bisa
meningkatkan kemampuan kerlarga tersebut. Dalam BSFT konselor membuat renca
dengan problem-focused, direct oriented
(misalnya mindahkan inti permasalah ke interaksi mereka) dan practical.
• Langkah 4:
Menerapkan strategi perubahan dan
meningkatkan pemberian penguatan
(reinforcement) pada perilaku keluar yang dianggap kompeten dan mengalami
peningkatan ke level yang lebih tinggi. Selain itu, juga penting untuk
menggunakan strategi perubahan termasuk reframing
untuk mengganti makna dari interaksi yang bermasalah tadi; merubah allliances dan mengeser batasan-batasan
yang bangun oleh setiap anggota keluarga (mengurangi gap), membangun problem solving skills, menyediakan
panduan parenting serta melakukan
pelatihan (jika dibutuhkan). (SAMHSA, tanpa tahun)
Kesimpulan
Strategic Family
Therapy adalah pendekatan konseling yang dimana dilakukan
dengan taktik-taktik atau strategi yang sudah dirancang dan dilaksanakan sesuai
prosedur serta secara hati-hati. Dan lebih berfokus pada perilaku yang tampak
dan dapat diperhitungkan. Dengan beberapa konsep karakteristik hasil
penggabungan konsep dari Alto Palo Group dan Erickson yaitu fokus pada pola
komunikasi keluarga yang digunakan saat ini yang berfungsi mempertahankan
masalah, treatment goals berasal dai
masalah atau gejala yang ditampakkan, memiliki keyakinan bahwa perubahan bisa
terjadi dengan cepat dan tidak membutuhkan insight pada penyebab terjadinya
masalah tersebut, memanfaatkan resistensi untuk mengajak perubahan dengan
menerapkan strategi khusus.
Ada
beberapa aplikasi dari Strategic Family
Therapyakan tetapi yang lebih dikenal adalah Brief Strategic Family Theraphydimana dikembangkan oleh Research Institute Brief Therapy Center dan The Milan Center for Family Studies.
Dalam pendekatan ini ada dua teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan
keluarga yang menjadi klien, yaitu Reframing
dan Restructualization.
DAFTAR
PUSTAKA
Jose´ Szapocznik, Seth J. Schwartz, Joan
A. Muir, and C. Hendricks Brown. 2012. Brief
Strategic Family Therapy:An Intervention to Reduce Adolescent RiskBehavior.
Miami: American Psychological Association.Couple and Family Psychology:
Research and Practice, Vol. 1, No. 2, 134–145
Olson, Blair R. 2007. Strategic Family Therapy for Dysfunctional
Parents. Academic Forum.
SAMSHA. Tanpa Tahun. Brief Strategic Family Therapy. U.S
Departement of Health & Human Services. http//:www.samhsa.gov
Stratton, Peter. 2011. The Evidence Base of Systemic Family and
Couples Therapies.Warrington: AFT Academic & Research Debelopment
Officer.
Winek, Jon L. 2012. Systemic Family Therapy - From Theory to Practice. SAGE Publications,
Inc. Student and Instructor Site. http//:www.mftlicense.com/pdf/sg_chpt4.pdf
Makasih mbak share bahasannya,, mantap!!
BalasHapus