Jumat, 11 Oktober 2013

KONSELING KELUARGA "STRATEGIC FAMILY THERAPY"



Strategic Family Therapy
Model Strategic Family Therapy dikembangkan pada tahun 1950 yang dimana ada dua sumber utama yaitu (1). Gregory Bateson dan Palo Alto Group. Keduanya mengaplikasikan ilmu cybernetics pada pola-pola komunikasi dalam keluarga. (2). Milton Erickson yang mengembangkan intervensi revolusi paradoxical yang memanfaatkan ketidak inginan seseorang untuk berubah untuk membawa perubahan yang cepat pada simptom kejiwaan.
            Palo Alto Group adalah grup yang terdiri dari Jay Haley dan John Weakland yang pertama kali bergabung setelah itu disusul oleh Gregory Bateson yang bergabung pada tahun 1953 yang kemudian terakhir bergabung pada tahun 1954 adalah William Fry. Ditahun 1954, Bateson menerima kesempatan dari Macy Foundation yang memiliki fokus untuk mempelajari skizofrenia bersama Don Jackson. Mereka mempelajari pola-pola komunikasi dalam keluarga dengan mendiagnosis skizofrenia untuk menemukan simptom yang original. Hasilnya mereka menemukan konsep cybernetics. Konsep Cybernatics adalah studi yang mempelajari bagaimana sistem pemrosesan informasi dikarenakannya ada umpan balik (feedback). Mereka berasumsi bahwa jika terjadi perilaku psikotik pada salah satu anggota keluarga akan masuk akal ketika keluarga memiliki komunikasi yang patologis pula. Menurut Jay Haley dan Cloe Madanes keluarga bermasalah akibat dinamika dan struktur keluarga yang disfungsional. Perilaku yang bermasalah merupakn usaha individu untuk mencapai kekuasaan dan rasa aman.
Strategic Family Therapy adalah pendekatan konseling yang dimana dilakukan dengan taktik-taktik atau strategi yang sudah dirancang dan dilaksanakan sesuai prosedur serta secara hati-hati. Selain itu pendekatan konseling keluarga ini langsung menangani masalah-masalah yang ada dikeluarga.
Ada beberapa konsep karakteristik hasil penggabungan konsep dari Alto Palo Group dan Erickson yaitu sebagai berikut:
1.         Fokus pada pola komunikasi keluarga yang digunakan saat ini yang berfungsi mempertahankan masalah.
2.         Treatment goals berasal dai masalah atau gejala yang ditampakkan.
3.         Memiliki keyakinan bahwa perubahan bisa terjadi dengan cepat dan tidak membutuhkan insight pada penyebab terjadinya masalah tersebut.
4.         Memanfaatkan resistensi untuk mengajak perubahan dengan menerapkan strategi khusus.
Tujuan Konseling
Untuk menentukan tujuan yang akan dicapai keluarga ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu sebagai berikut; tujuan haruslah dibuat bersama-sama oleh anggota keluarga, akan tetapi terapis tetap sebagai orang yang menentukan tujuan mana yang akan dipakai/diwujudkan. Tujuan pada strategic family therapy ini haruslah berfokus pada konsep behavioral, artinya tujuan keluarga tersebut nantinya harus merupakan perilaku yang nampak atau dapat di observasi.
Selain itu, Perilaku yang diinginkan juga harus mengikuti konsep behavioral dalam artian perilaku yang diinginkan pada akhir proses konseling, merupakan perilaku yang dapat berubah dalam konteks yang masuk akal atau perilaku yang masih dapat diperhitungkan.
Tujuan yang sudah ditentukan bersama tadi akan menjadi tanggung jawab untuk terapis menentukan treatmen yang akan diberikan kepada keluarga tersebut dan sudah dibuat perjanjian atau kesepakatan.
Peran Konselor
Konselor menanggapi munculnya daya tahan/perlawanan dalam keluarga dan mendesign rangkaian cerita tentang strategi-strategi untuk memecahkan masalah. Menerima munculnya perlawanan/daya tahan melalui penerimaan positif terhadap problem-problem yang dibawa keluarga. Konselor lebih seperti seorang dokter dalam tanggung-jawab terhadap keberhasilan treatment dan harus merencanakan dan membangun strategi-strategi.



Teknik-Teknik
Pendekatan Strategis sebagian besar difokuskan pada pemilihan strategi yang disesuaikan dengan situasi khusus dari permasalahan yang terjadi di keluarga tersebut. Masing-masing terdiri dari tiga model yang sedikit berbeda pada tekniknya, berikut penjelasannya:
A.  Mental Research Institute (MRI), menggunakan 6 langkah dala proses konselingnya yaitu:
1.    Introduction dan setup dimana sudah diterapkan pemberian motivasi.
2.    Menentukan definisi masalah pada perilaku yang tampak saja.
3.    Estimation Perilaku.
4.    Setting goals, pada tahap ini sudah menentukan perilaku apa yang ingin dicapai selesainya proses konseling.
5.    Selecting Dan Membuat Intervensi
a.    Reframing - menyediakan keluarga pengobatan yang rasional. MRI terapis mungkin tidak percaya apa yang dikatakan keluarga, tapi itu tidak penting asalkan penjelasan rasional. Point penting pada sesi bukan untuk membuat anggota Insight, tapi untuk mendorong kepatuhan.
b.    Outpositioning - Meminta seseorang mengambil peran anggota lain.
c.    Paradoxical - kepatuhan dengan dasar hanya menginginkan anggota keluarga dapat merubah perilakunya.
d.   Symptom atau Paparan dengan pradoks yang mengungkapkan hubungan-hubungan keluarga yang tidak tampak.
e.    Restraining - mengatakan keluarga mereka tidak bisa bergerak sangat cepat jika mereka tidak siap.
6. Termination (pengakhiran)
B. Haley dan Madanes, menggunakan strategic therapy untuk mengubah interaksi yang ada, tetapi ada perbedaan dari konsep murni dari Strategic FamilyTheraphy bahwa menurut mereka tujuan terapi tidak hanya untuk mengubah urutuan interaksi yang terjadi tapi juga mengubah struktur keluarga. (Piercy, 1996 dalamWinek, 2012).
Konsep terapi yang disampaikan Haley (1976) adalah terapi harus dilakukan dengan rancangan yang sudah dibuat sejak awal. Sesi pertama meruoaj sesi yang sangat penting, “Jika ingin terapi berjalan dengan baik, maka seharusnya dimulai dengan benar”. Terapis dan keluarga harus mendefinisi masalah yang akan dipecahkan, kemudian terapislah yang menemukan situasi seperti apa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu Haley sangat menyarankan bahwa terapis yang akan melakukan penanganan mewajibkan semua anggota keluarga yang terlibat harus hadir pada sesi pertama. Haley juga mengembangkan empat tahap yang rinci serta tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapannya, yaitu sebagai berikut:
1.    Tahap Sosial
Pada tahap ini terapis menyambut anggota keluarga karena bisa saja terjadi defense, gugup atau belum merasa nyaman ketika berada ditempat terapi. Pada tahap ini terapis juga memperhatikan norma-norma budaya yang sesuai.
Goal : Membantu setiap anggota keluarga agar merasa nyaman dan santai. Terapis sudah mulai melakukan pengamatan pola interaksi yang terjadi, kemudian membuat hipotesis tentang struktur yang ada dalam keluarga tersebut.
2.    Tahap Masalah
Pada tahap ini terapis bergeser ke situasi terapi dengan memperkenalkan dirinya sendiri, menguraikan apa yang sudah terpis  ketahui mengenai keluarga tersebut, dan sudah mulai bertanya tentang masalah yang terjadi. Terapis harus menjelaskan bahwa mereka semua hadir disini karena diminta untuk dapat berkontribusi untuk menyerukan pendapat dalam perspektif masing-masing anggota keluarga. Terapis sudah memutuskan siapa yang akan ia tanyai pertama (hasil dari pengamatan sebelumnya). Pada tahap ini biasanya terapis menghindari mulai bertanya pada anggota keluarga yang diidentifikasi sebagai sumber masalah.
Goal : Terapis terus mengamati sehingga dapat membuat hipotesis mengenai struktur hirarki yang seperti apa, tetapi tidak menginterpretasikan interaksi yang ada pada keluarga tersebut. Terapis mampu melihat perbedaan pendapat atau pandangan dalam penjelasan masalah dari masing masing anggota keluarga yang kemudian digunakan sebagai diskusi interaktif yang harus diikuti anggota keluarga. Terapis mampu mengambil alih sesi misalnya, mencegah anggota keluarga yang terlalu banyak bicara atau mendominasi, mendekati anak yang tidak ingin berbicara, dan interaksi lainnya agar semua anggota keluarga dapat memberikan penjelasan yang dapat dimengerti. Intervensi ini sangat strategic dimana bisa saja keluarga tersebut memunculkan atau mengulangi pola interaksi yang berlaku sebelumnya dikeluarga mereka.
3.    Tahap Interaksi
Pada tahap ini terapis meminta para anggota untuk berdiskusi satu sama lain mengenai perpektif ataupun ketidaksepakatan mengenai masalah yang terjadi. Terapis bisa ikut terlibat untuk membuat anggota keluarga agar dapat lebih masuk kedalam proses diskusi. Terapis dapat mengamati masalah interaksi dari anggota keluarga yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Goal : Uji Hipotesis, mengobservasi bagaimana urutan dan struktur pengaturan perilaku misalnya malfungsi pada hirarki, kualitas dari fungsi orangtua, dll.
4.    Tahap menentukan Goal Setting
Pada tahap ini terapi menanyakan setiap anggota perubahan seperti apa yang mereka inginkan setelah proses terapi ini berakhir. Terapis membantu memperjelas masalah dan kemudian tujuan seperti apa yang bisa diperhitungkan, diukur, atau bisa jadi mana perilaku mana yang dapat menyebabkan mempengaruhi dalam masalah ini.
Goal : Untuk menggambarkan masalah mana yang dapat diatasi selama proses terapi. Jika dapat diperhitungkan, terapis dan keluarga sudah mengetahui kapan proses treatment akan selesai.
Haley menyediakan daftar cheklist untuk mengevaluasi sesi pertama. Tugas yang dirancang oleh Haley adalah directivesm yang dimana ada tiga tujuan, yaitu:
1.    Untuk membuat anggota keluarga melakukan sesuatu yang berbeda dan merasakan pengalaman yang berbeda.
2.    Untuk melibatkan terapis dengan proses treatment  “meningkatkan hubungan dengan terapis”.
3.    Untuk mengumpulkan beberapa informasi mengenai bagaimana resopon setiap anggota keluarga pada tugas yang diberikan. Anggota keluarga dapat diarahkan pada sesuatu hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
C.  Milan - Ada beberapa model Milan. Model asli adalah sangat strategis. Keluarga akan dirawat oleh tim cotherapist pria dan wanita, terapi diamati oleh anggota tim lainnya, keluarga terlihat sekali sebulan hanya 10 sesi . Terapi seharusnya netral dan jauh. Terdapat 5 sesi, yaitu:
1.    Presession – membuat hipotesis tentatif
2.    Session - hipotesis diuji dan disempurnakan
3.    Intersession - tim akan bertemu dengan terapi sementara keluarga menunggu.
4.    Intervention - terapi akan kembali untuk memberikan intervensi . Ada beberapa intervensi biasanya digunakan
a.         Positive konotasi, melakukan reframe pada masalah yang dihadapi tetapi selama proses berlangsung semua anggota keluarga tidak diperbolehkan menyalahkan satu sama lainnya.
b.        Rituals adalah arahan untuk melibatkan seluruh keluarga dalam beberapa perilaku yang berlebihan atau aturan dan mitos yang diterapkan di keluarga. Anggota keluarga mungkin berterima kasih satu sama lain untuk gejala masing-masing.
5. Post - sesi - tim akan menganalisis reaksi keluarga dan rencana untuk sesi berikutnya.
Brief Stratefic Family Therapy (BSFT)
Brief Strategic Family Theraphy adalah salah satu variasi dari pendekatan strategic yang sering digunakan. Brief Strategic Family Therapy dikembangkan oleh Research Institute Brief Therapy Center dan The Milan Center for Family Studies. Pendekatan ini memiliki pandangan bahwa keluarga adalah kunci utama dalam perkembangan anak dan remaja. BSFT dirancang untuk langsung otomatis dapat melihat pola seperti apa yang terjadi dalam keluarga dan kemudian dijadikan rancangan intervensinya. (Szappocznik, dkk, 2012).
Tujuan dari BSFT sendiri ada beberapa hal yaitu:
1.      Meningkatkan hubungan keluarga yang dianggap memiliki korelasi langsung pada masalah yang terjadi di salah satu anggota keluarga tersebut.
2.      Meningkatkan hubungan keluarga dengan beberapa sistem yang beperan penting disekelilinganya (misalnya sekolah, teman sebaya, dll).
3.      Untuk memahami cara tertentu dimana bsft dapat menghasilkan perubahan dalam hubungan didalam keluarga dan bagaimana perilaku dalam mengatasi masalah.
BSFT adalah intervensi manualized (Szapocznik, dkk, 2003) dengan target yang terstruktur, pola interaksi dilingkungan keluarga bagi remaja, dan menciptakan perubahan dalam pola-pola yang tidak baik dengan intervensi strategis untuk merusak atau mengubahnya (pola). Dengan begitu ada tiga prinsip mengaoa disusunnya Brief Strategic Family Therapy (BTS) yaitu: (1). BSFT adalah pendekatan family-system. Family-system disini diartikan bahwa anggota keluarga saling ketergantungan. Pengalaman serta tingkah laku setiap anggota keluarga mempengaruhi pengalaman dan tingkah laku anggota keluarga lainnya. (2). Bahwa kebiaasan yang ada keluarga itu atau pola-pola interaksi yang berulang mempengaruhi tingkah laku setiap anggota keluarga. Pola interaksi dapat diartikan sebagai perilaku yang berulang-ulang dianatara anggota keluarga yang kemudian akan menjadi kebiasaan dan terulang dari waktu ke waktu. Yang dimana tugas konselor dalam BSFT adalah mengidentifikasi pola interaksi yang maladaptif yang terjadi dikeluarga tersebut. (3). Untuk merancang/merencanakan intervensi yang berfokus pada masalah dan target. Target disini dapat diartikan sebagai pola interkasi yang maladaptif terjadi di keluarga tersebut sekaligus memperkuat pola interkasi adaptifnya.
Teknik-Teknik BSFT
Reframing, digunakan untuk mengurangi dampak negatif yang memperngaruhi interaksi yang berlangsung didalam keluarga selagi menumbuhkan motivasi/keinginan untuk berubah sesuai target. Dengan itu terapis diharapkan dapat menjalin dan menjaga hubungan kerja yang efektif (joinning) agar terapi dapat terlibat dengan kegiatan yang dilakukan kelurga tersebut. Selain itu terapis juga diharapkan menjadi fasilitator untuk interaksi dalam keluarg serta merubah dampak negatif kedalam interaksi konstruktif yang membentuk keinginan keluarga tersebut untuk berubah.
Restructuring, setelah menjalankan reframing yang menjadi batu loncatan untuk intervensi restrukturalisasi yang mengubah hubungkan keluarga dari yang bermasalah menjadi mendukung satu sama lainnya. Adapun beberapa hal yang termasuk proses restrukturalisasi yaitu:
a)   Directed, redirected, dan blockingterhadap komunikasi yang mereka lakukan.
b)   Merubah family alliance.
c)    Membantu anggota keluarga mengembangkan kemampuan pemecahan masalah (konflik).
d)   Membantu anggota keluarga untuk mengembangkan managemen tingkah laku yang efektif, dan kemampuan managemen problem solving.
e)    Mendorong positive parenting, parental leadership skills.
Pada teknik ini, setiap sesi tidak pernah lepas dari pemberian tugas, setiap satu sesi berakhir akan diberikan tugas, sesi berikutnya berlangsung akan diberikan tugas kembali begitu seterusnya.
Langkah-Langkah BSFT
BSFT dapat diimplementasikan dalam berbagai pengaturan, termasuk komunitas atau lembaga pelayanan sosial, klinik kesehatan mental, lembaga kesehatan, maupun klinik keluarga. BSFT disampaikan dalam 8 sampai 12 minggu,  untuk setiap sesi membutuhkan waktu  1,5 jam. Keluarga dan BSFT konselor bertemu baik di kantor atau rumah, sekolah atau tempat lain sesuai kesepakatan bersama. Sesi dapat terjadi lebih sering di sekitar krisis karena ini adalah kesempatan untuk berubah. Adapun langkah-langkah penting yang dilakukan dalam BSFT, yaitu sebagai berikut:
       Langkah 1:
Mengatur tim kerja konselor keluarga. Pengembangan aliansi therapeutic dengan masing-masing anggota keluarga dan kehadiran keluarga secara keseluruhan sangat penting untuk proses BSFT. Oleh karena itu konselor diminta untuk menerima dan menunjukkan rasa hormat untuk setiap anggota keluarga individu dan keluarga secara keseluruhan.
       Langkah 2:
Mendiagnosa kekuatan keluarga dan bagaimana hubungan masalah. Memberikan perhatian penuh pada hubungan keluarga yang saling mensupport dan  korelasi masalah dengan pengaruhnya pada perilaku anggota keluarga.
       Langkah 3:
Mengembangkan kesempatan menggunakan strategi untuk kekuatan dan menentukan permasalahan sebenarnya yang bisa meningkatkan kemampuan kerlarga tersebut. Dalam BSFT konselor membuat renca dengan problem-focused, direct oriented (misalnya mindahkan inti permasalah ke interaksi mereka) dan practical.
       Langkah 4:
Menerapkan strategi perubahan dan meningkatkan pemberian penguatan (reinforcement) pada perilaku keluar yang dianggap kompeten dan mengalami peningkatan ke level yang lebih tinggi. Selain itu, juga penting untuk menggunakan strategi perubahan termasuk reframing untuk mengganti makna dari interaksi yang bermasalah tadi; merubah allliances dan mengeser batasan-batasan yang bangun oleh setiap anggota keluarga (mengurangi gap), membangun problem solving skills, menyediakan panduan parenting serta melakukan pelatihan (jika dibutuhkan). (SAMHSA, tanpa tahun)
Kesimpulan
Strategic Family Therapy adalah pendekatan konseling yang dimana dilakukan dengan taktik-taktik atau strategi yang sudah dirancang dan dilaksanakan sesuai prosedur serta secara hati-hati. Dan lebih berfokus pada perilaku yang tampak dan dapat diperhitungkan. Dengan beberapa konsep karakteristik hasil penggabungan konsep dari Alto Palo Group dan Erickson yaitu fokus pada pola komunikasi keluarga yang digunakan saat ini yang berfungsi mempertahankan masalah, treatment goals berasal dai masalah atau gejala yang ditampakkan, memiliki keyakinan bahwa perubahan bisa terjadi dengan cepat dan tidak membutuhkan insight pada penyebab terjadinya masalah tersebut, memanfaatkan resistensi untuk mengajak perubahan dengan menerapkan strategi khusus.
Ada beberapa aplikasi dari Strategic Family Therapyakan tetapi yang lebih dikenal adalah Brief Strategic Family Theraphydimana dikembangkan oleh Research Institute Brief Therapy Center dan The Milan Center for Family Studies. Dalam pendekatan ini ada dua teknik yang digunakan untuk mencapai tujuan keluarga yang menjadi klien, yaitu Reframing dan Restructualization. 
  
DAFTAR PUSTAKA

Jose´ Szapocznik, Seth J. Schwartz, Joan A. Muir, and C. Hendricks Brown. 2012. Brief Strategic Family Therapy:An Intervention to Reduce Adolescent RiskBehavior. Miami: American Psychological Association.Couple and Family Psychology: Research and Practice, Vol. 1, No. 2, 134–145
Olson, Blair R. 2007. Strategic Family Therapy for Dysfunctional Parents. Academic Forum.
SAMSHA. Tanpa Tahun. Brief Strategic Family Therapy. U.S Departement of Health & Human Services. http//:www.samhsa.gov
Stratton, Peter. 2011. The Evidence Base of Systemic Family and Couples Therapies.Warrington: AFT Academic & Research Debelopment Officer.
Winek, Jon L. 2012. Systemic Family Therapy - From Theory to Practice. SAGE Publications, Inc. Student and Instructor Site. http//:www.mftlicense.com/pdf/sg_chpt4.pdf

1 komentar: